cool hit counter

PDM Kota Jambi - Persyarikatan Muhammadiyah

 PDM Kota Jambi
.: Home > Berita > Shalat Gerhana Bulan Penumbral Tidak Disunnatkan

Homepage

Shalat Gerhana Bulan Penumbral Tidak Disunnatkan

Minggu, 20-03-2016
Dibaca: 725

gerhana bulan in ilustration

 

 

Di kalender Muhammadiyah dinyatakan bahwa pada tanggal 23 Maret yang akan datang akan

terjadi gerhana bulan penumbral.

Untuk itu, apakah pada gerhana bulan penumbral itu dilakukan juga salat gerhana? mohon informasi.

[Takmir Masjid Al-Jihad PDM Situbondo, Jawa Timur, 12-03-2016]

 

Jawaban (Fatwa Majelis Tarjih):

Terima kasih atas pertanyaannya. Dalam Putusan Tarjih XX di Garut tahun 1976 tentang salat Kusufain tidak disebutkan

gerhana seperti apa yang disunatkan untuk melakukan salat gerhana. Pernyataan Putusan tersebut bersifat umum, yaitu

“Apabila terjadi gerhana matahari atau bulan” [Berita Resmi Muhammadiyah, No. 76 Tahun 1977, h. 4 dan 22].

 

Dalam Putusan Tarjih XXVII di Malang tahun 2010 tentang Pedoman Hisab Muhammadiyah diberikan ketentuan

salat gerhana lebih rinci, namun tidak menjelaskan secara tegas tentang gerhana bulan penumbral apakah juga dilakukan

salat gerhana. Dalam Putusan itu ditegaskan, “Yang dimaksud dengan gerhana di sini adalah gerhana total (al-kusūf al-kullī),

gerhana sebagian (al-kusūf al-juz’ī), dan gerhana cincin (al-kusūf al-halqī) berdasarkan keumuman kata gerhana (kusūf)”

[Berita Resmi Muhammadiyah, No. 6, 2010-2015 / Ramadhan 1435 H / Juli 2014 M, h. 281].

Pernyataan ini nampaknya lebih tertuju kepada gerhana matahari.

 

Pada tahun 2010, Majelis Tarjih dan Tajdid mengeluarkan fatwa tentang gerhana. Fatwa tersebut pada butir 2 menegaskan,

“Salat gerhana matahari hanya dilakukan oleh orang di kawasan yang sedang mengalami gerhana dan tidak dilakukan oleh

orang yang berada di kawasan lain yang tidak berada dalam bayangan umbra/antumbra/penumbra (tidak mengalami gerhana).

Difatwakan tanggal 08 Januari 2010 M / 22 Muharam 1431 H]. Fatwa ini khusus mengenai gerhana matahari. Jadi oleh karena

itu perlu dilakukan kajian mengenai masalah salat gerhana bulan penumbral.

 

Sebelum menjawab pertanyaan Saudara, ada baiknya dijelaskan terlebih dahulu pengertian dan peristiwa terjadinya gerhana,

baik gerhana matahari maupun gerhana bulan. Secara mudah dalam bahasa sehari-hari gerhana matahari adalah tertutupnya

piringan matahari oleh piringan bulan sebagaimana terlihat dari muka bumi. Tertutupnya piringan matahari itu bisa secara

total sehingga disebut gerhana total, seperti yang terjadi di beberapa kawasan Indonesia pada hari Rabu, 09-03-2016 baru lalu.

Bisa juga piringan matahari itu tertutup sebagian saja sehingga disebut gerhana matahari sebagian seperti terlihat dari pulau

Jawa pada hari Rabu, 09-03-2016 baru lalu. Bisa juga piringan matahari yang tertutup itu hanya bagian tengahnya saja,

sementara bagian pinggir sekeliling piringan itu tidak tertutup, sehingga matahari terlihat seperti cincin yang melingkar.

Ini disebut gerhana cincin. Dalam Putusan Tarjih XXVII tahun 2010 saat terjadinya ketiga macam gerhana matahari ini

disunatkan melakukan salat gerhana matahari.

 

Dengan bahasa lain gerhana dapat dijelaskan secara mudah juga, bahwa peristiwa gerhana itu terjadi apabila suatu benda

langit melewati (masuk) dalam bayangan gelap atau bayangan semu benda langit lain. Perlu diketahui bahwa setiap benda

langit di angkasa mempunyai bayang-bayang yang dihelanya setiap saat dalam orbitnya akibat dari pancaran sinar matahari

kepadanya. Kita mengetahui bahwa semua benda apapun akan memiliki bayang-bayang saat dipancari sinar matahari, seperti

pohon di tengah kebun pada siang hari yang panas ada bayang-bayangnya yang dimanfaatkan petani sebagai tempat berteduh.

Gerhana matahari terjadi ketika bagian tertentu muka bumi terkena oleh, atau masuk ke dalam, bayang-bayang gelap atau

bayang-bayang semu bulan seperti pada ragaan di bawah ini.

 

Ragaan 1 (tanpa skala):

gambar 1.1

Ragaan 2 (tanpa skala):

gambar 2

Sumber: Ragaan 1 dan 2 diambil dari buku Interkoneksi Studi Hadis Astronomi (terbit 2011), h. 65 dan 67.

 

Pada ragaan 1 di atas terlihat bayang-bayang pekat bulan (yang disebut umbra) menyentuh muka bumi, maka bagian bumi

yang tertimpa bayang-bayang pekat (umbra) itu mengalami gerhana matahari total. Artinya orang yang berada pada kawasan

itu akan melihat bahwa seluruh piringan matahari tertutup oleh piringan bulan. Kemudian ada pula bagian bumi yang terkena

bayang-bayang semu yang disebut penumbra. Bagian bumi yang terkena bayang-bayang semu (penumbra) itu mengalami

gerhana matahari sebagian. Artinya orang yang berada pada kawasan itu akan melihat piringan matahari tertutup sebagian

oleh piringan bulan.

 

Pada ragaan 2 terlihat ada tiga macam bayang-bayang bulan, yaitu umbra (bayang-bayang pekat), penumbra (bayang-bayang

semu), dan antumbra, yaitu bayang-bayang semu juga tetapi terletak di ujung bayang-bayang pekat bulan. Pada ragaan tersebut

terlihat bahwa umbra tidak mencapai muka bumi, tetapi tergantung di angkasa. Yang mencapai muka bumi adalah antumbra.

Kawasan yang terkena antumbra itu mengalami gerhana matahari anular (cincin). Artinya orang yang berada di kawasan itu

akan melihat bahwa hanya bagian tengah piringan matahari tertutup oleh piringan bulan.

 

Perlu dicatat bahwa bodi bulan jauh lebih kecil dari bodi bumi, sehingga bayang-bayang pekat bulan tidak dapat menutupi

seluruh muka bumi. Hanya sebagian kecil muka bumi saja yang tertutup oleh umbra (bayang-bayang pekat) sehingga gerhana

total hanya merupakan satu kawasan sempit di muka bumi dengan lebar sekitar 250 km dan bayang-bayang itu berjalan dari

barat ke arah timur. Lebar jejak gerhana total Rabu, 09 Maret 2016 baru lalu di Palembang hanya 114 km. [Lihat buku Hisab

Bulan Kamariah, Penerbit Suara Muhammadiyah, 2012 (cet. ke-3), h. 70]. Bayang-bayang semu (penumbra) juga tidak

menutupi seluruh muka bumi, namun menutupi bagian sangat besar dari muka bumi. Di bawah ini adalah ilustrasi jejak

gerhana 2016.

 

 

Ragaan 3:

IMG-20160319-WA0016-horz

Sumber: Gambar diambil dari buku Interkoneksi Studi Hadis (h. 71) yang mengutip Freed Espanak dan Meeus.

 

Mengenai gerhana bulan, dapat dijelaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi saat oposisi (kebalikan ijtimak), yakni

saat bulan purnama, karena saat itu bumi berada di antara matahari dan bulan. Tetapi tidak setiap saat oposisi (istikbal)

terjadi gerhana bulan, karena saat oposisi bumi tidak selalu persis berada pada garis lurus antara titik pusat bulan dan

titik pusat matahari. Hanya apabila menyentuh garis lurus itu terjadi gerhana. Artinya gerhana bulan saat purnama

hanya terjadi apabila garis nodal menunjuk lurus ke arah matahari.

 

 

Terjadinya gerhana bulan adalah karena bulan masuk dalam bayang-bayang bumi. Karena bola bumi lebih besar dari

bola bulan, maka dimungkinkan seluruh bodi bulan masuk dalam bayang-bayang pekat bumi (umbra) sehingga terjadi

gerhana bulan total yang teramati dari seluruh muka bumi, dan dari muka bumi terlihat piringan bulan tertutup oleh

bayang-bayang pekat bumi (angka 8 pada ragaan 4). Atau bisa juga terjadi hanya sebagian bodi bulan yang masuk

dalam bayangan pekat bumi (umbra), sehingga terjadi gerhana bulan sebagian. Dalam kasus ini piringan bulan terlihat

dari muka bumi tidak utuh bulat karena sebagiannya tertutup bayangan gelap bumi (angka 9 pada ragaan 4). Bahkan

bisa juga bodi bulan tidak masuk sama sekali dalam bayang-bayang pekat bumi (umbra), melainkan hanya masuk

seluruhnya dalam bayang-bayang semu bumi (penumbra) sehingga inilah yang dinamakan gerhana penumbral (angka 7

pada ragaan 4). Dalam kasus ini, terlihat dari bumi tidak ada bagian piringan bulan yang tertutup oleh bayang-bayang

gelap bumi (umbra). Piringan bulan terlihat utuh (bulat), hanya sedikit redup. Bisa juga terjadi bahwa bodi bulan

hanya sebagian saja yang masuk dalam bayang-bayang semu bumi (penumbra) sehingga disebut gerhana bulan

penumbral sebagian (angka 10 pada ragaan 4).

 

 

Ragaan 4 (tanpa skala): Ilustrasi gerhana bulan

gambar 4

Perlu dicatat bahwa dalam perjalanannya mengelilingi bumi, saat gerhana, bulan tidak selalu melintasi bayang-bayang

pekat bumi (umbra), melainkan bisa saja hanya lewat di sampingnya dalam bayang-bayang semu bumi (penumbra).

Dalam kasus ini tidak terjadi gerhana umbral. Yang terjadi hanya gerhana penumbral saja. Inilah yang akan terjadi

pada gerhana bulan tanggal 23 Maret 2016 dan gerhana bulan tanggal 16 September 2016 yang akan datang.

 

Untuk menambah penjelasan mengenai bagaimana kemungkinan bulan melintas pada bayang-bayang bumi, dapat

dilihat pada ragaan 5.

 

Ragaan 5: empat kemungkinan bulan melintas pada bayang-bayang bumi.

gambar 5

Pada zaman Nabi saw selama periode Madinah terjadi 4 kali gerhana matahari yang dapat diamati di Madinah yang

semuanya adalah gerhana matahari parsial (sebagian). Sedangkan gerhana bulan selama periode Madinah terjadi 17 kali:

4 kali total, 7 kali parsial, dan 6 kali penumbral. Namun dalam hadis, yang banyak mendapat perhatian adalah gerhana

matahari. Hal itu memang demikian sepanjang sejarah peradaban manusia. Gerhana matahari selalu mendapat

perhatian lebih banyak. Hampir tidak ada hadis yang merekam gerhana bulan di zaman Nabi saw. Dari empat kali

gerhana matahari yang dialami di Madinah di zaman Nabi saw, gerhana terakhir di masa beliau yang terjadi pada hari

Senin tanggal 27 Januari 632 Masehi (29 Syawal 10 H) mendapat banyak rekaman dalam hadis-hadis beliau. Hal itu

terutama karena pada hari tersebut putra beliau Ibrahim meninggal dunia pada usia 22 bulan. Lagi pula gerhana itu

merupakan gerhana parsial (sebagian) yang paling maksimal beliau alami. Gerhana ini mulai pada pukul 07:15:57

Waktu Madinah dan berakhir pukul 09:54:29 Waktu Setempat. Gerhana ini merupakan gerhana cincin (anular).

Hanya saja jejak gerhana cincin ini tidak melewati kota Madinah, melainkan lewat di selatan Jazirah Arab, sehingga

di Madinah dialami gerhana parsial saja.

 

Tidak diragukan lagi bahwa Nabi saw melakukan salat gerhana matahari pada saat gerhana parsial karena gerhana

matahari yang beliau alami di Madinah dan juga di Mekah semuanya adalah gerhana matahari parsial (sebagian).

Gerhana matahari parsial itu dialami oleh kawasan muka bumi yang masuk ke dalam bayangan semu bulan (penumbra).

Bedanya dengan gerhana bulan penumbral adalah bahwa saat bodi bulan masuk dalam bayangan semu bumi (penumbra)

piringan bulan terlihat dari muka bumi utuh dan bulat, hanya saja cahaya piringan bulan itu sedikit lebih redup,

namun tidak begitu terasa. Jadi tidak ada bagian piringan bulan yang tertutup yang membuatnya tampak tidak utuh.

Piringan bulan baru nampak tertutup apabila bodi bulan memasuki umbra (bayangan pekat) bumi. Apabila seluruhnya

masuk, maka terjadi gerhana total bulan (lihat angka 8 ragaan 4 dan angka 2 ragaan 5). Apabila hanya sebagian yang

masuk, maka terjadi gerhana parsial atau sebagian (lihat angka 9 ragaan 4 dan angka 3 ragaan 5). Tidak ragu lagi juga

bahwa pada kasus gerhana bulan parsial ini dilakukan salat gerhana sebagaimana Nabi saw melakukannya pada salat

gerhana matahari parsial.

 

Dasar pelaksanaan salat gerhana matahari dan gerhana bulan adalah hadis Aisyah berikut,

 

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِى حَيَاةِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَصَفَّ النَّاسُ وَرَاءَهُ ، فَكَبَّرَ فَاقْتَرَأَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً ، ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً ، ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ . فَقَامَ وَلَمْ يَسْجُدْ ، وَقَرَأَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً ، هِىَ أَدْنَى مِنَ الْقِرَاءَةِ الأُولَى ، ثُمَّ كَبَّرَ وَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً ، وَهْوَ أَدْنَى مِنَ الرُّكُوعِ الأَوَّلِ ، ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ، رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ . ثُمَّ سَجَدَ ، ثُمَّ قَالَ فِى الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ مِثْلَ ذَلِكَ ، فَاسْتَكْمَلَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِى أَرْبَعِ سَجَدَاتٍ ، وَانْجَلَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَنْصَرِفَ ، ثُمَّ قَامَ فَأَثْنَى عَلَى اللهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ قَالَ هُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ ، لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلاَةِ

[رواه البخاري والنسائي وأحمد].

Dari ‘Ā’isyah, istri Nabi saw, [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Pernah terjadi gerhana matahari pada masa hidup

Nabi saw, lalu beliau keluar ke masjid dan jamaah berdiri bersaf-saf di belakang beliau. Rasulullah saw bertakbir

lalu beliau membaca qiraat yang panjang, kemudian beliau bertakbir dan rukuk dengan dengan rukuk yang lama.

Lalu beliau mengucapkan sami‘allāhu liman ḥamidah dan berdiri lurus, kemudian tidak sujud, melainkan membaca

qiraat yang panjang, tetapi lebih pendek dari qiraat pertama, kemudian beliau ruku yang lama, tetapi lebih singkat

dari rukuk pertama. Kemudian beliau membaca sami‘allāhu liman ḥamidah, rabbanā wa lakal-ḥamd. Kemudian

beliau sujud. Kemudian pada rakaat kedua (terakhir) beliau mengucapkan ucapan seperti pada rakaat pertama,

sehingga terpenuhi empat rukuk dan empat sujud. Kemudian sebelum beliau selesai, matahari lepas dari gerhana.

Kemudian beliau berdiri dan mengucapkan tahmid untuk memuji Allah sesuai dengan yang menjadi kepatutan bagi-Nya,

lalu beliau bersabda: Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak gerhana

karena mati dan hidupnya seseorang. Jika kamu melihat keduanya, segeralah mengerjakan salat

[HR al-Bukhārī, an-Nasā’ī, dan Aḥmad].

 

Menurut hadis ini, apabila terjadi gerhana matahari atau gerhana bulan, maka dilakukan salat gerhana. Kata “melihat” dalam

hadis di atas tidak diartikan melihat secara fisik, tetapi dimaknai mengalami, yakni kawasan tempat kita berada tertimpa

bayangan gelap (umbra) atau bayangan semu (penumbra) dalam kasus gerhana matahari, atau tertimpa bayangan gelap

(umbra) bulan dalam kasus gerhana bulan. Jadi walaupun kita tidak melihat gerhana itu secara fisik karena saat itu hujan

lebat misalnya atau keadaan langit berawan tebal yang menghalangi terlihatnya gerhana, saat itu tetap disunatkan salat

gerhana karena kita sedang mengalaminya, meskipun tidak melihatnya secara fisik lantaran tertutup awan tebal.

 

Pertanyaan timbul terkait dengan kasus angka 7 dan 10 pada ragaan 4 atau angka 1 dan 4 pada ragaan 5, yakni saat

gerhana bulan penumbral, baik penumbral utuh (angka 7 atau 1 pada ragaan 5) maupun penumbral sebagian (angka 10

pada ragaan 4 atau 4 pada ragaan 5), apakah juga dilakukan salat gerhana? Untuk itu perlu diselidiki makna kata “khusuf”

dan “kusuf” yang digunakan untuk menyebut gerhana dalam hadis. Perlu ditegaskan bahwa dalam fikih istilah gerhana

matahari disebut kusūf dan gerhana bulan disebut khusūf. Namun dalam hadis tidak ada pengkhususan seperti itu.

Dalam hadis kedua kata itu dipakai secara dipertukarkan, seperti hadis yang dikutip di atas menyebut gerhana

matahari khusūf.

 

Kata “khusūf” secara keseluruhan mengandung makna terbenam, hilang, berkurang, membolongi, menyobek.

Firman Allah fa khasafnā bihi al-arḍa [Q. 28: 81] berarti, “Maka Kami (Allah) benamkan dia (Karun) dan rumahnya

ke dalam bumi.” Kalimat khasafa al-makānu berarti ‘tempat itu hilang’ (dalam arti tenggelam karena air atau lainnya).

Khasafat al-‘ainu berarti mata buta, yakni gelap dan tidak dapat melihat. Al-Khasīf min as-saḥāb berarti awan hitam

yang mengandung air. Kaitan ini semua dengan gerhana bulan adalah bahwa bulan terbenam dalam bayang-bayang

gelap bumi sehingga hilang dan tidak kelihatan.

 

Khasafa al-‘aina berarti mencongkel mata, sehingga wajahnya tampak bolong atau ompong karena biji matanya tidak

ada. Khasafa al-bi’ra berarti menggali batu untuk memperdalam sumur. Artinya membolongi batu dalam sumur guna

menambah kedalaman. Khasafa asy-syai’a berarti membolongi sesuatu, atau memotongnya. Khasafa asy-syai’u berarti

sesuatu itu berkurang (karena ada bagiannya yang hilang atau terpotong). Khasafa al-badanuberarti badan kurus,

artinya berkurang atau hilang sebagian bobotnya. Kaitan ini semua dengan gerhana bulan adalah bahwa sebagian

piringan bulan tampak ompong atau terpotong dan tidak utuh karena sebagian bola bulan masuk dalam bayang-bayang

gelap (umbra) bumi. Jadi kalau begitu khusūf berarti bahwa piringan bulan hilang terbenam dalam umbra atau hilang

sebagian sehingga tampak piringannya seperti terpotong dan tidak utuh karena sebagiannya masuk dalam umbra bumi.

 

Adapun kata “kusūf” berarti menutupi, memotong, atau suram, muram atau berubah warna muka. Kasafa asy-syai’a

berarti gaṭṭāhu artinya menutupi sesuatu. Kasafa aṡ-ṡauba berarti memotong kain. كسف الوجه berarti wajah muram,

warna muka berubah menjadi masam, suram. Jadi inti makna kusūf adalah tertutup, atau terpotong. Dalam kaitan

dengan gerhana berarti matahari atau bulan tertutup atau piringannya tampak terpotong yang berakibat sinarnya

berubah menjadi suram.

 

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa gerhana yang dalam hadis disebut dengan khusūf atau kusūf berarti 

bahwa piringan matahari atau bulan terbenam dan hilang atau terpotong/ompong dan tampak tidak utuh. Hal itu dalam

kasus gerhana matahari terjadi karena bumi melewati umbra, antumbra atau penumbra. Dalam kasus gerhana bulan,

hilangnya piringan bulan atau tampak terpotong atau ompong dan tidak utuh karena bola bulan masuk dalam umbra.

Apabila tidak masuk ke dalam umbra, tetapi hanya masuk dalam penumbra, piringan bulan akan tetap tampak utuh

(bulat) dan tidak ada bagiannya yang tampak terpotong. Hanya saja cahaya bulan itu sedikit redup, namun sulit

dibedakan dengan tidak gerhana.

 

Bertitik tolak dari analisis semantik terhadap kata “khusūf” dan “kusūf” di atas, maka Majelis Tarjih dan Tajdid

berpendapat bahwa salat gerhana dilakukan apabila terjadi gerhana di mana piringan dua benda langit tampak

berkurang atau tidak utuh atau hilang seluruhnya. Perlu dicatat bahwa salat gerhana itu dilaksanakan baik kita melihat

secara fisik atau tidak lantaran ada awan tebal misalnya. Artinya salat gerhana dilaksanakan karena kawasan kita

walaupun kita tidak dapat melihatnya dengan mata telanjang karena adanya awan pekat yang menutupinya.

 

Dalam kasus gerhana penumbral, piringan bulan tampak utuh dan bulat, tidak tampak terpotong, hanya cahaya bulan

sedikit redup dan terkadang orang tidak bisa membedakannya dengan tidak gerhana. Oleh karena itu dalam kasus

gerhana bulan penumbral menurut Majelis Tarjih dan Tajdid tidak disunatkan melakukan salat gerhana bulan.

 

[Difatwakan di Yogyakarta pada hari Jumat, 18 Maret 2016 M / 9 Jumadil Akhir 1437 H]

 

.sumber: tarjih.or.id


Tags: Shalat Gerhana Bulan Penumbra
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori: Fatwa Tarjih, Shalat Gerhana



Arsip Berita

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website